“Nggak, aku gak percaya kalau mereka orang jahat,
mungkin mereka kejam karena membunuh orang tanpa pengadilan yang layak, tapi
tujuan mereka baik. Mereka ingin menjaga agar republic ini aman dari para
penjahat jalanan” Ria bersungut-sungut.
“Apapun alasannya membunuh orang kemudian
menggantungnya di public tidak bisa dibenarkan. Mereka telah menciptakan terror
di masyarakat. Apalagi cara mereka menghukum para criminal itu sangat tidak
berperikemanusiaan.” Angga tidak mau kalah.
“Faktanya serangan mereka yang membabi buta itu
membuat banyak warga sipil yang terluka. Gak sedikit yang nyawanya melayang di
tangan para Shooters. Ah sudahlah, kenapa kau harus merusak suasana makan malam
kita dengan argumentmu tentang para Shooter bodoh itu. Mereka sudah menghilang
lebih dari 25 tahun yang lalu” lanjut Angga berusaha menyelesaikan perdebatan.
Shooter adalah sekelompok penembak jitu yang tak
segan-segan membunuh para penjahat atau preman yang sedang melakukan kejahatan
di jalanan. Tidak ada yang tahu, siapa dan darimana asal para Shooter itu.
Mereka muncul tak lama setelah terjadi kerusuhan di salah satu Penjara terbesar
di bagian timur Republik Esa yang membuat sebagian besar napi kelas kakap
kabur.
Tingkat kriminalitas jalanan meningkat drastis. Penjambretan,
pemerkosaan, perampokan semakin marak. Tidak ada yang aman dijalan. Berpergian malam
sama saja dengan perjudian nyawa.
Kemudian para Shooters muncul. Penjahat-penjahat itu
satu persatu tumbang tertembus peluru. Mayatnya dibiarkan tergeletak dijalan.
Tidak ada yang tahu siapa yang jadi target para
shooter. Yang masyarakat takut korban mereka adalah mereka para pelaku
kejahatan jalanan, preman, orang-orang bertato.
Mereka muncul tidak lebih dari dua bulan, tetapi
efeknya luar biasa. Kejahatan menurun. Preman dan orang-orang bertato tidak
berani keluar kejalan. Setelah para narapidana pelarian penjara satu-persatu
berhasil kembali ditangkap dan dimasukkan kepenjara,para Shooters menghilang dari Republik. Banyak yang
bersukur, kemunculannya menjadi terror tersendiri bagi para preman, tapi tidak
sedikit yang contra karena tindakan para shooters sendiri sangat sadis dan
tidak berperikemanusiaan.
Mata Ria masih berapi-api “Kalau saja para polisi
waktu itu bertindak lebih tegas dalam menghadapi Napi-napi yang kabur dari
penjara, tentu Shooters tidak akan muncul. Mereka itu adalah bentuk
kekhawatiran masyarakat yang takut terhadap terror para criminal.”
“Kami para polisi memiliki peraturan kami sendiri.
Kami tidak asal tembak dijalan. Kami hanya menghukum mereka yang benar-benar
dinyatakan bersalah oleh pengadilan yang syah dan diakui oleh Negara.” Suara Angga
meninggi.
“Toloooongg!!!! Jambret!!!” seorang ibu –ibu diseberang
jalan tempat makan Angga dan Ria berteriak dalam posisi tersungkur ditanah tak
jauh darinya terlihat seorang lelaki menggendong tas jinjing berwarna merah
emas berlari menjauh.
“Kamu tunggu disini ya, biar aku kejar jambretnya”
Angga berlari mengikuti jambret itu memasuki lorong di antara gedung-gendung
pencakar langit. Penjambret itupun berlari didepannya sambil sesekali memungut segala macam barang yang
dia temukan kemudian melemparnya kearah Angga yang semakin mendekat
mengejarnya.
Aksi kejar mengejar di lorong-lorong kota itu terhenti
ketika penjambret sudah memasuki daerah kumuh dipinggiran kota. Angga melompat
merobohkannya berusaha merebut tas merah emas yang ada ditangannya. Baku pukul
tidak terhindarkan lagi. Angga seorang detective polisi yang sudah sangat
terlatih bela diri karate terlihat lebih unggul dalam pengalaman. Tak kurang
dia setidaknya membuat si penjambret itu tiga kali jatuh tersungkur karena
pukulan dan tendanganya.
Sudah pasti kalah, penjambret itu melempar tas hasil
jambretanya, sembari berlari menjauh dari Angga. Angga sendiri yang sempat
lengah karena menghindari lemparan tas yang menuju tepat kewajahnya telat
menyadari si penjambret telah kembali berlari memasuki lorong-lorong gedung
kemudian menghilang dalam kegelapan.
Angga geram karena gagal menangkap penjambret itu. Dipegangi
pipinya yang agak membengkak karena sempat terkenal pukulan sambil dia memungut
tas merah emas.
Saat dia berbalik hendak kembali ke restoran tempat
dia makan dia melihat Ria sedang tak berdaya. Dia disandra oleh seseorang
berpostur tinggi besar membawa belati yang siap menggorok leher kekasihnya.
“Serahkan Tas itu, atau kugorok leher pacarmu” hardik
Pria itu, disampingnya seorang laki-laki lain yang sangat dikenal Angga
tersenyum sinis si penjambret yang kabur.
“Kalian berdua tidak tahu malu, beraninya menyandra
wanita” Angga melemparkan tasnya kearah penjambret dan Pria berbadan besar.
“Berdua? Sepertinya kamu salah hitung” pria berbadan
itu tersenyum sumringah, dari di belakangnya
keluar empat pria lain membawa tongkat besi dan pisau.
“Sudah terlambat untuk menyesal, karena tingkahmu yang
sok pahlawan itu kini kamu harus menjalani hukuman yang pahit. Mati!!!” pria
besar itu memberi kode pada anak buahnya untuk menghajar Angga.
Dengan Ria yang berada sebagai Sandra, Angga tidak
bisa mengambil resiko untuk melawan. Dia hanya berusaha melindungi dirinya
dengan tanganya atau sesekali menghindar untuk menepis pukulan dan tendangan
yang datang. Tapi bahkan seorang yang ahli di seni bela diri seperti Angga akan
sulit bertahan melawan 4 orang sekaligus.
“DOOOR!!!!” terdengar suara tembakan, sejurus kemudian
Pria besar itu ambruk bersimbah darah. Di dahinya terlihat sebuah lubang
tertembus peluru. Tembakan pertama itu langsung disusul dengan tembakan ke dua,
sampai ke lima. Preman-preman yang awalnya mengkeroyok Angga tumbang satu
persatu, menyisakan si penjambret yang berdiri disamping Ria.
Penjambret itu shock ketakutan, wajahnya pucat.
Setengah sadar dia berbalik berniat melarikan diri masuk ke lorong bersembunyi,
tapi terlambat. Satu buah tembakan lain menyusul mengenai bagian kepala
belakangnya. Dia terjerembab setelah beberapa saat tubuhnya mengejang bergetar
dia tewas.
Ria terduduk lemas, Angga dengan cepat menghampiri dan
menopangnya. Mereka masih belum bisa benar-benar mencerna peristiwa yang baru
saja mereka alami. Beberapa saat kemudian
ketika kesadaran Ria sudah mulai kembali dari Shock jari telunjuknya menunjuk
kearah sebuah gedung dua lantai yang tidak terpakai.
“Seseorang menembak dari arah gedung itu, aku sempat
melihat percikan api dari senjata yang dia gunakan, diatap gedung itu,” Ria
berbicara dengan nada bergetar.
“Tidak mungkin, gedung itu berjarak hampir satu
setengah kilo dari sini, dan ini malam hari, tidak mungkin seseorang menembak
dari jarak itu” Angga tidak bisa percaya
dengan yang dikatakan oleh Ria.
“Ada… ada orang-orang yang bisa menembak dari jarak
jauh di malam hari seperti yang ini..” Ria mengalihkan pandanganya ke pada
Angga.
Angga sendiri nampak gusar “Maksudmu… mereka??”
Ria Mengangguk “iya…. The Shooters…..”

0 komentar:
Posting Komentar