This is default featured slide 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

This is default featured slide 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

This is default featured slide 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

This is default featured slide 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by Premiumblogtemplates.com

Kamis, 17 Juli 2014






“Nggak, aku gak percaya kalau mereka orang jahat, mungkin mereka kejam karena membunuh orang tanpa pengadilan yang layak, tapi tujuan mereka baik. Mereka ingin menjaga agar republic ini aman dari para penjahat jalanan” Ria bersungut-sungut.

“Apapun alasannya membunuh orang kemudian menggantungnya di public tidak bisa dibenarkan. Mereka telah menciptakan terror di masyarakat. Apalagi cara mereka menghukum para criminal itu sangat tidak berperikemanusiaan.” Angga tidak mau kalah.

“Faktanya serangan mereka yang membabi buta itu membuat banyak warga sipil yang terluka. Gak sedikit yang nyawanya melayang di tangan para Shooters. Ah sudahlah, kenapa kau harus merusak suasana makan malam kita dengan argumentmu tentang para Shooter bodoh itu. Mereka sudah menghilang lebih dari 25 tahun yang lalu” lanjut Angga berusaha menyelesaikan perdebatan.

Shooter adalah sekelompok penembak jitu yang tak segan-segan membunuh para penjahat atau preman yang sedang melakukan kejahatan di jalanan. Tidak ada yang tahu, siapa dan darimana asal para Shooter itu. Mereka muncul tak lama setelah terjadi kerusuhan di salah satu Penjara terbesar di bagian timur Republik Esa yang membuat sebagian besar napi kelas kakap kabur.

Tingkat kriminalitas jalanan meningkat drastis. Penjambretan, pemerkosaan, perampokan semakin marak. Tidak ada yang aman dijalan. Berpergian malam sama saja dengan perjudian nyawa.

Kemudian para Shooters muncul. Penjahat-penjahat itu satu persatu tumbang tertembus peluru. Mayatnya dibiarkan tergeletak dijalan.

Tidak ada yang tahu siapa yang jadi target para shooter. Yang masyarakat takut korban mereka adalah mereka para pelaku kejahatan jalanan, preman, orang-orang bertato.

Mereka muncul tidak lebih dari dua bulan, tetapi efeknya luar biasa. Kejahatan menurun. Preman dan orang-orang bertato tidak berani keluar kejalan. Setelah para narapidana pelarian penjara satu-persatu berhasil kembali ditangkap dan dimasukkan kepenjara,para Shooters  menghilang dari Republik. Banyak yang bersukur, kemunculannya menjadi terror tersendiri bagi para preman, tapi tidak sedikit yang contra karena tindakan para shooters sendiri sangat sadis dan tidak berperikemanusiaan.

Mata Ria masih berapi-api “Kalau saja para polisi waktu itu bertindak lebih tegas dalam menghadapi Napi-napi yang kabur dari penjara, tentu Shooters tidak akan muncul. Mereka itu adalah bentuk kekhawatiran masyarakat yang takut terhadap terror para criminal.”

“Kami para polisi memiliki peraturan kami sendiri. Kami tidak asal tembak dijalan. Kami hanya menghukum mereka yang benar-benar dinyatakan bersalah oleh pengadilan yang syah dan diakui oleh Negara.” Suara Angga meninggi.

“Toloooongg!!!! Jambret!!!” seorang ibu –ibu diseberang jalan tempat makan Angga dan Ria berteriak dalam posisi tersungkur ditanah tak jauh darinya terlihat seorang lelaki menggendong tas jinjing berwarna merah emas berlari menjauh.

“Kamu tunggu disini ya, biar aku kejar jambretnya” Angga berlari mengikuti jambret itu memasuki lorong di antara gedung-gendung pencakar langit. Penjambret itupun berlari didepannya sambil  sesekali memungut segala macam barang yang dia temukan kemudian melemparnya kearah Angga yang semakin mendekat mengejarnya.

Aksi kejar mengejar di lorong-lorong kota itu terhenti ketika penjambret sudah memasuki daerah kumuh dipinggiran kota. Angga melompat merobohkannya berusaha merebut tas merah emas yang ada ditangannya. Baku pukul tidak terhindarkan lagi. Angga seorang detective polisi yang sudah sangat terlatih bela diri karate terlihat lebih unggul dalam pengalaman. Tak kurang dia setidaknya membuat si penjambret itu tiga kali jatuh tersungkur karena pukulan dan tendanganya.

Sudah pasti kalah, penjambret itu melempar tas hasil jambretanya, sembari berlari menjauh dari Angga. Angga sendiri yang sempat lengah karena menghindari lemparan tas yang menuju tepat kewajahnya telat menyadari si penjambret telah kembali berlari memasuki lorong-lorong gedung kemudian menghilang dalam kegelapan.

Angga geram karena gagal menangkap penjambret itu. Dipegangi pipinya yang agak membengkak karena sempat terkenal pukulan sambil dia memungut tas merah emas.

Saat dia berbalik hendak kembali ke restoran tempat dia makan dia melihat Ria sedang tak berdaya. Dia disandra oleh seseorang berpostur tinggi besar membawa belati yang siap menggorok leher kekasihnya.

“Serahkan Tas itu, atau kugorok leher pacarmu” hardik Pria itu, disampingnya seorang laki-laki lain yang sangat dikenal Angga tersenyum sinis si penjambret yang kabur.

“Kalian berdua tidak tahu malu, beraninya menyandra wanita” Angga melemparkan tasnya kearah penjambret dan Pria berbadan besar.

“Berdua? Sepertinya kamu salah hitung” pria berbadan itu tersenyum sumringah, dari  di belakangnya keluar empat pria lain membawa tongkat besi dan pisau.

“Sudah terlambat untuk menyesal, karena tingkahmu yang sok pahlawan itu kini kamu harus menjalani hukuman yang pahit. Mati!!!” pria besar itu memberi kode pada anak buahnya untuk menghajar Angga.

Dengan Ria yang berada sebagai Sandra, Angga tidak bisa mengambil resiko untuk melawan. Dia hanya berusaha melindungi dirinya dengan tanganya atau sesekali menghindar untuk menepis pukulan dan tendangan yang datang. Tapi bahkan seorang yang ahli di seni bela diri seperti Angga akan sulit bertahan melawan 4 orang sekaligus.

“DOOOR!!!!” terdengar suara tembakan, sejurus kemudian Pria besar itu ambruk bersimbah darah. Di dahinya terlihat sebuah lubang tertembus peluru. Tembakan pertama itu langsung disusul dengan tembakan ke dua, sampai ke lima. Preman-preman yang awalnya mengkeroyok Angga tumbang satu persatu, menyisakan si penjambret yang berdiri disamping Ria.

Penjambret itu shock ketakutan, wajahnya pucat. Setengah sadar dia berbalik berniat melarikan diri masuk ke lorong bersembunyi, tapi terlambat. Satu buah tembakan lain menyusul mengenai bagian kepala belakangnya. Dia terjerembab setelah beberapa saat tubuhnya mengejang bergetar dia tewas.

Ria terduduk lemas, Angga dengan cepat menghampiri dan menopangnya. Mereka masih belum bisa benar-benar mencerna peristiwa yang baru saja mereka alami. Beberapa saat kemudian  ketika kesadaran Ria sudah mulai kembali dari Shock jari telunjuknya menunjuk kearah sebuah gedung dua lantai yang tidak terpakai.

“Seseorang menembak dari arah gedung itu, aku sempat melihat percikan api dari senjata yang dia gunakan, diatap gedung itu,” Ria berbicara dengan nada bergetar.

“Tidak mungkin, gedung itu berjarak hampir satu setengah kilo dari sini, dan ini malam hari, tidak mungkin seseorang menembak dari jarak itu” Angga tidak  bisa percaya dengan yang dikatakan oleh Ria.

“Ada… ada orang-orang yang bisa menembak dari jarak jauh di malam hari seperti yang ini..” Ria mengalihkan pandanganya ke pada Angga.

Angga sendiri nampak gusar “Maksudmu… mereka??”

Ria Mengangguk “iya…. The Shooters…..”